Inilah 5 Bukti Pemerintah dan Bangsa Indonesia Sudah Melupakan Sejarah

Saat ini sering kali berita baik di televisi maupun media sosial berisi tentang penghinaan pahlawan, penghinaan pancasila, dan ada museum yang ditutup. Hal ini mengdiskreditkan negara Indonesia sebagai negara yang besar. Bung Karno pernah berkata,

“Jangan sekali-kali melupakan sejarah” atau mungkin kalian pernah mendengar kata-kata “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”.

Tapi seperti pemberitaan yang ramai di media sosial mengenai penghinaan kepada sejarah membuktikan baik pemerintah maupun rakyatnya dari yang muda sekalipun sudah berkurangnya rasa untuk menghormati jasa pahlawan dan sudah mulai melupakan sejarah negara Indonesia. Berikut ini bukti Pemerintah dan Rakyat Indonesia sudah melupakan sejarah, yuk disimak.

1. Tutupnya Museum Radya Pustaka

Tutupnya Museum Radya Pustaka

Detik – “Radyapustaka, museum tertua di tanah air, sudah dua hari ini seluruh karyawannya tidak masuk kerja. 12 karyawan mangkir, tidak masuk kerja tanpa menyampaikan pemberitahuan. Pihak Komite Museum Radyapustaka mengakui sedang mengalami problem keuangan serius, bahkan sudah sejak Januari karyawannya tidak digaji karena tidak memiliki dana.”

Dari data yang diatas, Museum Radya Pustaka di Solo itu tutup karena karyawannya tidak digaji selama 4 bulan itu membuat para karyawan mangkir dan museum tutup beberapa hari pada April lalu. Bahkan untuk membayar listriknya saja pihak museum sudah tidak mampu. Hal ini membuka mata kita bahwa pemerintah tidak memberi perhatian ke museum ini. Padahal di dalam museum ini ada sekitar 400 naskah kuno yang memang perlu penanganan serta pendanaan yang ekstra supaya naskah kuno itu tidak lapuk dimakan usia.

2. Foto Diatas Patung Pahlawan

Foto Diatas Patung Pahlawan

“Tribunnews- Beredar foto sekumpulan anak muda menduduki Monumen Pahlawan Revolusi di jejaring sosial Facebook. Foto ini pertama kali muncul melalui akun facebook bernama Wahyu Budhi Sulistyo. Wahyu mengunggah sebanyak empat foto para pemuda yang hingga saat ini belum diketahui identitasnya. Sebanyak tiga pemuda duduk diatas kepala patung para pahlawan, sementara empat orang lainnya berdiri diantara mereka. Serentak perilaku yang menghina para pahlawan tersebut menimbulkan banyak kecaman dari para netizen.

Baca juga :  Dua Beradik asal Depok Tewas Bunuh Diri

Dari data diatas, kita dibuat menggelengkan kepala tanda keheranan. Kita mesti heran karena bukan saja generasi tua yang mulai melupakan sejarah dan tidak menghargai jasa pahlawan, tetapi pemuda-pemuda sudah menunjukkan sikap tidak hormat itu. Oleh karena itu, sikap-sikap menghormati pahlawan ini sudah diantisipasi oleh Bung Karno, “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati jasa pahlawannya”. Semoga kedepan, baik generasi muda tidak ada yang melakukan hal serupa dan melupakan sejarah.

3. Kasus Zaskia Gotic

Kasus Zaskia Gotic

Kalian masih ingat kronologis kasus Zaskia Gotic yang sempat heboh kemarin?. Seperti ini :

1. Denny Cagur : “Tanggal berapa proklamasi Indonesia?” Zaskia nulis di kertasnya “Abis sholat subuh”, trus ditanya tanggal. Zaskia menjawab tanggal 32 Agustus
2. Denny Cagur : “Apa lambang Pancasila yang ke-5?” Si Zaskia nulis di kertasnya “Bebek nungging”

Seorang publik figur memberikan contoh yang sangat tidak mendidik bagi masyarakat. Dari pemerintah, pemuda, dan sekarang publik figur menunjukkan sikap-sikap lupa sejarah dan tidak menghormati pahlawan Apakah kita akan menjadi bangsa yang besar seperti kata Bung Karno?.

4. Mengancungkan Jari Tengah ke Jenderal Sudirman

Ngacungin Jari Tengah ke Jenderal Sudirman

Solopos.com, SOLO – Ulah remaja pengguna media sosial lagi-lagi memicu kemarahan publik. Pemilik akun Facebook, Gopenx All Well, memajang foto yang memperlihatkan seorang remaja melakukan perbuatan tak pantas kepada Pahlawan Nasional, Jenderal Soedirman. Kelakuan remaja yang satu ini memang bikin geleng-geleng kepala. Gopenx mengunggah foto dimana ia sedang menghadap ke gambar Pahlawan Nasional, Panglima Soedirman. Parahnya, Gopenx mengangkat jari tengah ke hadapan gambar Panglima Soedirman yang sedang memberi penghormatan dalam foto tersebut. Bocah itu bahkan memasang ekspresi bangga sembari tertawa.

Dari data diatas, kalian bisa menilai sendiri bagaimana anak pemuda yang ini juga sama kaya pemuda yang dibagian kedua. Dalam foto ini menunjukkan kalau pemuda kita masih banyak yang tidak menghargai pahlawannya. Mungkin juga karena ia tidak tau sejarahnya atau mungkin melupakan sejarah bangsanya sendiri?

Baca juga :  Mblo Ke Bandung Yuk, Ada Eskrim Untuk Jones Nih

5. Bangunan Bersejarah Jadi Lahan Parkir Mall

angunan Bersejarah Jadi Lahan Parkir Mall

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA — Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Surabaya meminta maaf atas dirobohkannya rumah radio barisan pemberontakan RI Bung Tomo yang termasuk kedalam bangunan cagar budaya (BCB) tipe B di Jalan Mawar No 10-12, Tegalsari, Surabaya. Bangunan itu dirobohkan agar lahan dijadikan tempat parkir mall.

Siapa sih yang tidak kenal Bung Tomo?. Banyak orang yang kenal Bung Tomo karena pidatonya lewat radio yang berapi-api membakar semangat arek-arek Suroboyo pada tanggal 10 Novermber 1945. Namun, sekarang tempat siaran radio bersejarah itu sudah rata dengan tanah. Sudah tidak ada lagi peninggalan yang dapat kita lihat sebagai bukti sejarah. Sekarang kita melihatnya rata dengan tanah, dan nanti beberapa tahun kemudian kita akan melihat tempat bersejarah itu menjadi lahar parkir mall.

Betapa kecewanya kita. Pemerintah berani mengganti tempat bersejarah itu menjadi lahan parkir mall. Entah, apa yang ada dipikiran pemerintah saat ini sehingga ‘nekat’ seperti itu. Mungkin inilah bukti bahwa memang pemerintah kita sudah melupakan sejarah.

—-

5 bukti Pemerintah dan Rakyat Indonesia sudah melupakan sejarah diatas diharapkan menjadi refleksi bagi kita sebagai Bangsa Indonesia. Ternyata bukan hanya pemerintah yang sudah mulai melupakan sejarah serta tidak menghargai pahlawannya, tapi juga kita juga sebagai rakyatnya. Khususnya pemuda-pemuda bangsa yang seharusnya menjadi pendobrak dari kemerosotan, jangan ikut merosot.

Referensi : Sinuratdani

Share via :