Sejarah Shalat 5 Waktu dan Makna yang Tersimpan di Setiap Rakaatnya

Jika kalian pernah naik haji atau pergi umrah ke Makkah, kalian pasti tahu gambar diatas. Ya, itu adalah potongan-potongan marmer berwarna coklat yang berada pada tembok Syadzarwan dekat pintu Ka’bah yang menandai tempat dimana malaikat Jibril mengajarkan Nabi Muhammad SAW bagaimana tata cara berwudhu dan shalat. Tempat ini juga sering disebut Musholla Jibril.

Adapun shalat yang pertama kali Jibril ajarkan kepada baginda Nabi Saw adalah shalat Dzuhur, yang mana awal waktunya adalah ketika matahari tergelincir dari posisi zawal yang berlangsung kira-kira 10 menit. Kemudian berturut-turut ‘Ashar, Maghrib, ‘Isya dan Shubuh. Malaikat Jibril mengajarkannya dalam dua hari. Hari pertama pada awal waktu shalat, dan hari kedua pada akhir waktu shalat.

Dalam kesempatan tersebut, malaikat Jibril berkata kepada baginda Nabi SAW: “Wahai Muhammad, ini adalah waktu-waktu shalatnya para Nabi sebelum engkau, dan waktu yang ada diantara kedua waktu shalat ini” (HR. Abu Daud dan lainnya)

Mengenai riwayat tentang shalat para Nabi yang menjadi pertama mendirikannya shalat yang lima waktu tersebut, ini dapat kita rujuk dalam kitab “Syarh Sullamul Munajah” karya Imam Nawawi al-Jawi al-Bantani at-Tanari, hal 88-89.

Shalat sendiri adalah istilah ini berasal dari kata kerja “Shalaah” yang bermakna suatu perbuatan dan orang yang melakukannya disebut Mushallin, sementara pusat tempat melakukannya disebut Mushala.

Baca juga :  Kenalan Yuk Sama Finalis Asia's Next Top Model 4 dari Indonesia

Shalat merupakan suatu perbuatan memuliakan Allah Swt yang menjadi suatu tanda syukur kaum muslimin sebagai seorang hamba dengan gerakan dan bacaan yang telah diatur khusus oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak boleh diubah kecuali ada ketentuan-ketentuan yang memperbolehkannya.

Allah swt telah berfirman:

“Dirikanlah shalat, sungguh ini merupakan kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang-orang yang beriman” (QS. An-Nisaa’: 103-104)

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’ dan sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu;Berbuatlah kebaikan supaya kamu mendapatkan kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77)

Dalam kitab suci Al-Qur’an tidak menjelaskan secara detail sejak kapan dan bagaimana teknis pelaksanaan shalat yang diperintahkan kepada Nabi Muhammad SAW. Meski demikian Al-Qur’an secara tegas menyatakan bahwa shalat sudah dilakukan oleh umat-umat sebelumnya, seperti perintah shalat kepada Nabi Ibrahim dan anak cucunya, kepada Nabi Syu’aib, kepada Nabi Musa dan kepada Nabi Isa al-Masih.

Pernyataan Al-Qur’an tersebut dibenarkan oleh cerita-cerita yang ada dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang mengisahkan tata cara beribadah para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW, yaitu ada berdiri, ruku’ dan sujud, yang jika dirangkai maka menjadi shalat seperti shalat umat Islam dewasa ini.

  • “Segeralah Musa berlutut ke tanah, lalu sujud menyembah.“ Perjanjian Lama-Kitab Keluaran 34:8
  • “Masuklah, marilah kita sujud menyembah, berlutut di hadapan TUHAN yang menjadikan kita.” Perjanjian Lama-Kitab Mazmur 95:6
  • “Lalu sujudlah Yosua dengan mukanya ke tanah, menyembah.” Perjanjian Lama-Kitab Yosua 5:14
  • “Kemudian ia menjauhkan diri dari mereka kira-kira sepelempar batu jaraknya, lalu ia berlutut dan berdoa.” Perjanjian Baru-Injil Lukas 22:41
  • “Ia maju sedikit, merebahkan diri ke tanah dan berdoa.” Perjanjian Baru-Injil Markus 14:35
Baca juga :  10 Tips Meyakinkan Dosen Untuk Tidak Ragu Memberi Kamu Nilai A

Dari pernyataan ini, maka jelas bagi suipa pun bahwa shalat umat Islam pda hakekatnya sudah menjadi bagian dari tradisi dan ajaran yang baku dari semua Nabi dan Rasul Allah sepanjang zaman sebagaimana firman-Nya:

“Demikianlah hukum Allah yang telah berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tidak akan menemukan perubahan pada hukum Allah itu”. (QS. Al-Fath: 23)

Share via :

1 Comment on Sejarah Shalat 5 Waktu dan Makna yang Tersimpan di Setiap Rakaatnya

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.




This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.