Inilah 11 Hal Yang Hanya Dimengerti oleh Orang Yang Hidup dalam Keluarga Broken Home

Lahir dan tumbuh dalam keluarga Broken Home atau keluarga yang berantakan merupakan hal yang pastinya tidak diinginkan oleh seorang anak. Biasanya orang yang terjebak dalam kondisi broken home akan mengalami situasi yang menyebalkan, menyakitkan, dan seringkali membuat orang tersebut mampu melakukan hal-hal yang diluar akal sehat, misalnya saja mencoba bunuh diri.

Pada dasarnya kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan dalam keluarga yang berantakan, bermasalah dan sebagainya. Dan bukan salah maupun dosa kita lahir dalam keluarga tersebut dan nanti pada akhirnya kita cenderung akan membandingkan kondisi keluarga kita dengan keluarga orang lain yang harmonis. Bagaikan racun yang membunuh perlahan.

Situasi broken home sendiri bukanlah sesederhana orang tua yang bercerai saja, tapi bisa mencakup juga keluarga yang tak pernah akur dan selalu bertengkar, misal orangtua ke anak, ayah ke ibu, anak ke anak, atau sebaliknya. Disini akan dijabarkan berbagai macam hal yang hanya dimengerti oleh orang yang hidup dalam keluarga broken home seperti yang dilansir dari agan Mr. Sirait , silahkan disimak.

1. Kami mengerti rasa sakit itu

Kami mengerti rasa sakit itu.

Terkadang jika orang lain punya masalah maka akan ada orang yang berusaha menghibur dan mengatakan, “aku mengerti perasaanmu”. Tapi tidak dalam kasus keluarga broken home. Jikalau kalian tidak pernah hidup atau mengalaminya, akan naif sekali bagi kalian untuk mengatakan hal tersebut pada orang yang langsung mengalaminya.

Pertengkaran yang diluar batas, teriakan yang terdengar sampai ke hati yang terdalam, bantingan pintu dan barang-barang, apakah kalian bisa bayangkan seorang anak tumbuh dalam keluarga yang seperti itu? Hanya orang-orang yang mengalaminya langsung yang akan memahami hal tersebut, dan orang tersebut biasanya mampu menjadi sandaran bagi orang lain yang bernasib sama dengannya, atau dia bersandar pada dirinya sendiri.

2. Kami berusaha menutupi rasa sakit tersebut

Kami berusaha menutupi rasa sakit tersebut

Ya, kami berusaha menutupi rasa sakit. Orang yang hidup dalam situasi broken home benci dengan sisi buruk dari keluarganya, sebisa mungkin mereka menutupi hal tersebut dan berpura-pura kalau kondisinya baik-baik saja.

3. Kami terkadang menjadi orang yang terlalu baik

Kami terkadang menjadi orang yang terlalu baik

Sebenarnya ini tergantung kepada pribadi orangnya juga. Namun cenderungnya kami menjadi penuh kasih terhadap orang lain. Karena kami sudah begitu mengenal dan memahami apa itu rasa sakit. Setiap kali teman-teman baik kami datang dalam keadaan penuh masalah bahkan sampai menangis, sebisa mungkin kami selalu ada untuk mereka karena kami ingin menjadi orang yang sebenarnya kami butuhkan ketika berada dalam keluarga broken home.

4. Kami takut pulang kerumah

Kami takut pulang kerumah

Kami takut untuk pulang kerumah. Orang-orang yang hidup dalam keluarga yang broken home merasa tidak ingin pulang ke rumah. Kami menemukan rumah di tempat lain, sekolah, tempat nongkrong, bahkan rumah orang lain, bersama sahabat kami, guru, atau siapapun, jadi sebisa mungkin kami pulang ke “rumah” tidak begitu cepat.

5. Kami suka menyalahkan diri sendiri

Kami suka menyalahkan diri sendiri

Karena sudah terbiasa menyalahkan keadaan, terkadang orang yang hidup dalam suasana broken home, cenderung lebih menyalahkan dirinya sendiri dalam berbagai situasi. Kami cenderung keras terhadap diri sendiri dan keinginan kami, sampai terkadang omongan orang lain terhadap kami tidak pernah kami pedulikan.

Share melalui :

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*