Emak, Televisi, Dan Sinetron

emak dan sinetron

Dalam dunia pertelevisian Indonesia, sinetron adalah hal wajib yang akan disiarkan oleh saluran televisi. Sepengetahuan gue hanya Matro Tipi  dan Tipi Satu yang dalam jam tayangnya tak menyiarkan sinetron. Telivisi lain selalu mencoba menyiarkan sinetron yang mendulang rating, nah mereka sama sekali tak tertarik untuk melakukan hal yang sama. Kalo dianalogikan sih sama seperti gue, layaknya sepasang kekasih yang menikmati cinta di malam minggu, nah gue hanya sendiri menonton televisi. Ngenes ya??!.

Mungkin dari kalian ada yang membenci sinetron atau kalian malah menggilainya, dan pasti ada juga yang terpaksa menyukai sinetron. Gue adalah contoh orang yang terpaksa menyukai sinetron, mungkin ini awalnya gue belum juga dapat pacar karena lebih terpaksa menyukai sinetron. Oh iya keluarga gue baru punya televisi ketika gue berumur enam tahun. Masa dimana belum mengenal cinta kamu yang menyakitkan itu *eh.

Dalam masa keunyu-unyuan gue saat itu, gue adalah anak yang punya rasa ingin tahu yang kuat. Gue selalu saja ingin menonton televisi, ingin mengetahui apa yang terjadi diluar sana. Dari mulai nonton film kartun sampai nonton ibu-ibu yang sedang masak sesuatu yang sepertinya enak seraya menjulurkan lidah kearah televisi, kesetrum. Masa-masa indah yang kemudian berlalu terlalu cepat seperti kamu dihatiku *eaa.

Ketika telenovela menyerang penyiaran televisi di Indonesia beberapa tahun lalu, televisi bukan hak gue lagi. Iya, sudah sepenuhnya punya emak gue. Emak gue adalah orang yang akan pertama duduk di depan televisi jika ada telenovela yang disiarkan. Pokoknya nggak bisa diganggu oleh siapapun, kami sekeluarga sudah paham. Jika kami datang mengganggu, kami harus memilih jatah makan kami berkurang atau tak diakui.

Kemudian telenovela pun menghilang, yang dibarengi dengan datangnya drama-drama Asia yang secara cepat memunculkan adaptasinya versi Indonesia, yang disebut sinetron. Walaupun sudah masuk zaman sinetron tetap saja yang menguasai televisi adalah emak gue. Gue pasti akan menonton sinetron yang emak gue sering nonton dari pada nggak ngapa-ngapain. Malah karena keseringan nonton gue sampai hapal jalan cerita sinetron-sinetron tersebut, dan kadang malah gue akan jadi penjelas alur cerita sinetron yang emak gue nggak ngerti. Kalian tau sendiri sebagai mana ‘rusaknya’ gue waktu itu, tapi demi emak gue pun rela *ciyee anak berbakti.

Ketika gue sudah terbiasa menonton sinetron malah emak gue yang jadi malas-malasan nonton. Kadang sampai gue ngingetin “Mak, ada sinetron tukang haji masak bubur nih, nggak nonton?”, terus emak gue jawab “Emak ada pengajian, catet alurnya aja ya, ntar pas pulang ceritain”. Gue ngangguk aja seraya ngambil buku sekolah, bukannya belajar malah catet sinetron. Jadi kalian  jangan heran yah sama nilai merah di raport gue.

Ternyata dari seringnya nonton sinetron gue belajar banyak hal. Ternyata sinetron dapat mempererat hubungan emak dan anak. Membuat gue jadi anak yang nurut ke emak, yah demi membuat nama gue aman di kartu keluarga sih *eh. Dan gue juga belajar kalo hidup itu tak semudah kayak disinetron, apalagi soal cinta. Kita nggak bisa tuh cari pacar dengan cara nabrakin mobil kita ke seseorang, kemudian dia marah, eh kenalan, eh jadian. Nggak segampang itu lah, gila aja, malah kalo kalian praktekin cara tersebut didunia nyata gue jamin kalian bakal masuk penjara atau paling mending sih kena amukan massa.


Link terkait :
[display-posts tag=cinta]

Baca juga yah :
[display-posts categories=cerita]

Share melalui :

12 Comments on Emak, Televisi, Dan Sinetron

  1. Saya mengalami hal yang sama beberapa tahun lalu. Tapi semenjak kerja, saya buru-buru beli TV baru, biar TV baru bisa saya monopoli, huahahaha…
    Tapi seru dan kreatif juga ya, nyatetin alur cerita sinetron, ckckck…

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*