De Gerimis Absurditories

gerimis

Lagu yang mewakili hari itu adalah lagu band asal Malaysia, Slam, yang berjudul Gerimis Mengundang. Hari minggu gerimis membasahi Tangerang dengan air hujan, termasuk rumah gue, untung rumah gue ada atapnya kalo ngga ada, yah itu bukan rumah dong *yaelah. Kebetulan di rumah gue kala itu ada acara arisan, jadi para tamu berdatangan menyambut undangan di kala gerimis. Oh iya, malam sebelumnya (malam minggu) hujan deras loh, gue dan para jomblowers ramai-ramai bersujud syukur.

Para tamu kebanyakan berada di luar kota Tangerang, tapi masih dalam wilayah Jabode (Jakarta, Bogor, Depok). Eh bentar Bekasi juga deh, tapi kan Bekasi berada di luar planet, iya kan? *kemudian di keroyok warga bekasi*.

Karena keluarga gue baru pindah sekitar setahun yang lalu maka beberapa tamu belum ada yang tau lokasi rumah gue. Tugas gue di hari minggu itu adalah mengarahkan mereka ke rumah. Mereka menelpon bapak gue kemudian bapak menyuruh gue menjemput dan memberi jalan terang menuju rumah. Gue bawa obor, obornya mati, gue ganti lilin, lilinnya mati, eh gue malah berubah jadi babi *apasih.

Gue dan bapak menjemput dua orang ibu-ibu dari Karawang yang menunggu di pasar dekat rumah dimana adalah tempat mereka turun dari angkutan umum. Gue menggunakan motor shogun gue lagi dong, wih selalu terpakai yah si shogun, emang shogun itu kekasih gue banget kalo lagi di Tangerang. Shogun selalu menemani gue ketika gue jadian dengan pacar, jalan sama pacar, putus sama pacar, dan memergoki mantan pacar dengan pacarnya. Maafkan ya shogun, gue selalu melupakanmu ketika di rantau *ceritanya sedih, ceritanya aja*.

Gue dan bapak bergegas menjemput mereka. Ketika sampai pasar tersebut gue melihat dua orang ibu sedang menunggu kami di samping pangkalan tukang ojek. Para ojekers memasang tampang tidak respek kepada kami karena kami mengambil target mereka. Kemudian, untuk menyelesaikan masalah itu gue tatap mata para ojekers satu per satu seperti berkata “Oh maafkan gue bang, jangan gitu ya bang, selalu mau ngojekin gue dari Bandara ke rumah ya bang, peluk nih, peluuuk, ciyuuum”. Mereka tiba-tiba muntah berjamaah.

Salah satu ibu naik di motor bapak, dan dibawa bapak langsung menuju rumah. Jadi gue akan memboceng ibu satunya. Nah si ibu ini, jujur gue lupa namanya bilang ke gue gini sebelum naik motor “Eh calon pengantin, disini juga toh?”. Gue bingung, kemudian dia ngomong lagi “Jadi kapan nikah nya?”. Uh tajam juga pertanyaannya, gue seperti ditusuk dari belakang saat memboceng si ibu ini. “Eh iya, kalo udah dapet pasangan bu” jawab gue pelan menembus gerimis. Gerimis ini ada untungnya juga ternyata, bisa memanipulasi tangisan gue.

Sesampainya di rumah, ibu itu turun dan bertemu emak gue. Emak gue memperkenalkan gue kepada ibu yang gue bonceng tadi bahwa gue anaknya juga, bukan anak kambing tetangga. Ibu itu kaget, dan bilang ke emak gue “Loh saya kira calon pengantin yang di Priok, hahahaha, ternyata anak mu yah, mukanya mirip sih hahaha”.

Gue akhirnya mengerti maksud dia tadi di motor, ternyata dia nganggep gue orang lain, seseorang yang akan jadi pengantin. Tapi saat itu gue langsung merasa iba kepada calon pengantin itu, mengapa?, karena mukanya mirip ama gue. Gue akan bilang gini kepada abang calon pengantin itu “Yang sabar ya bang menggunakan muka seperti ini, tapi abang tenang aja, abang masih punya satu kelebihan kok, abang udah ada yang mau”.


Link terkait :
[display-posts tag=absurd]

Baca juga yah :
[display-posts categories=cerita]

Share melalui :

29 Comments on De Gerimis Absurditories

  1. wah bawa bawa bekasi… saya lagi di planet bekasi nih ntar kalo di keroyok makhluk bekasi gimana,? saya kan juga kena…

    btw, nggak tanya ma ibu tadi orang yang mo nikah itu siapa itu sodara yang tertukar hehe

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*