Aiendyu (Part 4) : Menyuarakan Hati

 menyuarakan hati

Pagi yang cerah di bulan kelabu. Kenapa gue sebut bulan kelabu? Karena bulan ini adalah bulan Februari, inget yah pake “F” bukan “P”. Tau kan bulan Februari ada apa?. Iya bulan ini adalah bulan dimana cinta bermekaran dan panah asmara saling menyerang di medan cinta #lebay. Hanya di bulan ini ada “Hari Kasih Sayang” yang mana menyisip di antara hari senin s/d minggu. Dan bulan ini juga mengakibatkan aktivitas tidur pagi gue terganggu, loh?, karena mulai bulan ini gue masuk kuliah lagi, menambah coretan krayon warna abu-abu di bulan kelabu.

Gue, Danny Yudha Rahmadian, seorang mahasiswa tingkat akhir di Perguruan Tinggi di Jakarta. Kalian tau ga kenapa disebut Perguruan Tinggi, Itu karena gedung universitas kami tinggi-tinggi loh #eh. Gue sekarang aktif masuk kuliah lagi, kuliah yang sekaligus refrehing otak aja buat nyusun skripsi yang sampai sekarang nggak kelar-kelar. Revisi disana sini, ya kadang disana ya kadang disini tergantung Pak Doni aja, Dosen Pembimbing gue. Gue kuliah udah sekitaran 5 tahun sejak lulus SMA dan belum lulus-lulus juga, bukan karena gue bodoh yah, gue cuma ga  pinter aja *nyari alesan*.

Dia, Aini Endriani, seorang wanita yang rela waktu senggangnya digunakan untuk membuat buku “Aiendyu”, buku yang tadi pagi gue baca. Wanita yang memberi gue kesempatan mencicipi berbagai rasa yang indah di dunia dan menjadikan gue lelaki yang sejahtera dengan penuh rahmat sentosa di lingkungan SMA. Dan kini gue nggak tahu keberadaannya sejak  saat itu, takdir yang memisahkan kami.

Gue duduk disalah satu meja (duduknya dikursinya yah) di perpustakaan pagi ini. Mencari bahan-bahan untuk penyusanan skripsi. Otak gue bekerja mencari dan terus mencari pada buku-buku yang tadi gue ambil di sana. Kemudian otak gue berhenti bekerja, oh tidak, pemikiran gue buntu untuk nyusun skripsi ini. Gue melihat ke arah kamera CCTV dan gue mulai melambaikan tangan tanda menyerah #eh. Apa yang gue harus perbuat?, “Coba deh ada Aini disini” batin gue berbicara, “Eh bentar gue kan bawa buku aiendyu di tas” bales benak gue, eh batin ama benak gue malah ngobrol *loh*.

Gue buka buku aiendyu dengan membaca basmallah, tiba-tiba terbuka sendiri oleh tangan gue, eh, dan gue melanjutkan membuka lembaran ketiga buku ini. “Hey yudha, kamu inget pertama kali nelpon aku? Inget ga?” Kata-kata pertama yang menyapa gue, dan dibawahnya terdapat foto yang menampakan (lagi-lagi bukan penampakan yah) Aini dan ibunya berpose sambil menebarkan senyum. Aini dan Ibunya ini mirip loh, iya – iyalah kan anaknya *Ehiyajuga.

Pertama kali gue telepon dia itu sebulan setelah gue kenal dengannya. Komunikasi kami terjalin kalo ga ngobrol saat nunggu Bis ataupun ber-SMS ria ketika berada dirumah. Suatu ketika, waktu menunjukan pukul sembilan malam di suatu malam jumat, gue menancapkan tonggak sejarah pada hubungan gue bersama Aini. Gue menelpon dia. Gue menyiapkan mental gue yang agak cacat ini #nyadar.

Gue pijit tombol handphone (HP) gue memilih kontak Aini, dan kemudian si HP bersendawa, “tut tut tut”, dan nyambung. “Halo?” suara seorang wanita membuat sendawa si HP berhenti. Gue terdiam, mulut gue ga bisa bicara. “Halo?” suara wanita itu memanggil gue. Gue memilih diam. Eh kalian tanya dong kenapa gue diam, tanya yah tanya yah #ehmaksa. Gue diam karena yang nerima telepon dari gue sepertinya bukan Aini.

Kemudian HP bersendawa sedih lagi seperti hati gue “tut tut tut”. HP nya dibunuh sehingga mati ditempat dan lagi-lagi sama seperti gue, mati berdiri karena kikuk. Kali ini hati gue yang bertanya, “tadi siapa yah yang ngangkat?”. Gue berusaha meyakinkan diri, mungkin gue salah ngontak ataukah ini efek malam jumat #auuuuu. Gue cek, eh bener kok tadi gue nelpon Aini. Yaudah gue mencoba untuk menelpon dia lagi.

“tut tut tut”,  “Halo, nak yudha yah?”, “Ada perlu apa sama aini?” tiba-tiba tanpa diduga suara ini meneror telinga gue. “Iya, maaf ini bukan aini yah?” gue ngajuin pertanyaan bodoh yang sudah jelas jawabannya. “Bukan, saya ibunya” suara itu kemudian menjawab. “Oh, Selamat malam tante, maaf ya ganggu, aini nya ada?” pertanyaan penyelamat harga diri gue lancarkan. #FYI, harga diri gue sebenarnya ga ada, karna gua ga dijual #eh.

Kemudian percakapan diantara kami terjadi :

Ibu Aini : “Oh aini lagi di dapur, lagi buat susu buat ayahnya. Ada apa yah nak yudha?”
Gue : “Eng, eng, ngeeeeng, eh, engga Bu, pengen nanya sesuatu aja”
Ibu Aini : “Sesuatu apa nak Yudha?”
Gue : “Sesuatu itu, hmm, itu …”

belum sempet gue jawab, tiba-tiba….

Ibu Aini : “Eh Ai, ini ada telepon dari nak yudha, ciyeeee,…” *kemudian terdengar suara sradak sruduk*

Gue bengong, gue bodoh, eh gue malah ngatain diri sendiri *loh*. Sesaat kemudian terdengar sebuah suara yang manis, suara yang sudah sebulan ini mendekam di hati gue, yang selalu menemani gue ngobrol di bis. “Halo yudha? ada apa yah?” suara manis itu bertanya. “Ihhh ibu sono dong” tiba-tiba suara itu lagi, gue pun menjawab “Kenapa Ai?” dia membalas “Bentar yah, ibu nguping nih hehe”. Gue jawab seperti kuis anak-anak di tipi “Iyaa iyaa bisa jadi bisa jadi#ngaco.

Beberapa detik setelah itu percakapan diantara gue dan Aini pun berlanjut:

Aini :  “Halo yud?, tadi kata ibu, kamu pengen nanya sesuatu, apa yah?”.
Gue : “Eh iya, hmm, itu.. pengen nanya kabar  aja hehe” 
Aini : “Kamu ini loh, aku kirain apa, alhamdulillah aku sehat, kamu?”
Gue : “Alhamdulillah luar biasa, merdeka”
Aini : “Kamu ini loh, tumben nelpon, lagi banyak pulsa yah hehe”
Gue : *diam*
Aini : “Yudha? Kok kamu diam?”
Gue : “Hehe, gue baru inget, pulsa  gue tinggal dikit”
Aini : “Kamu ini loh, yaudah besok-besok lagi aja”
Gue : “Hehe iya, makasih ya… salam ama ibu kamu bilang ke dia kalo masakannya enak”
Aini : “Eh emang kamu pernah nyoba?”
Gue : “Belum sih hehe, tapi pasti enak kan?”
Aini : “Kamu ini loh, iyaalah  enak hehee”
Gue : “Eh Ai, makasih ya udah mau kenal dengan gue, gue selalu seneng deh dekat dengan mu”
Aini : *diam*
Gue : “Ai?, tau ga kalo kamu udah buat hidup gue bewarna akhir-akhir ini. Kemanisan mu, kelucuan mu. Aku suka. Bahkan cinta memparodikan dirinya agar lucu seperti kamu”
Aini : *masih diam*
Gue : “Ai?”

Kemudian HP gue berbunyi tepat di telinga gue, pip pip pip, tanda sms masuk. Loh? ternyata dari tadi percakapan gue dan Aini terputus. “Pulsa mu udah habis yah Yud? hehe, makasih yah udah nelpon. selamat malam”  isi sms yang ternyata dari Aini. Gue terdiam, gue kikuk, dan gue bodoh, eh gue malah ngatain diri sendiri lagi yah #masihnyadar. Gue ga bisa bales sms Aini. Gue pengen teriak “Oh pulsa kenapa dirimu habis? Hei HP kenapa ga isi diri sendiri, mandiri dong” . Kemudian HP gue mati #auuuuuu.

. . . .

“Plak”
“Plak”

Suara beberapa buku dibanting diatas meja perpustakaan. Suara itu mengagetkan gue. “Hei, gimana udah ketemu bahan buat skripsi lo Yud?”  seorang pria berbicara kepada gue. Gue melirikan mata kearah suara itu, dan menemukan sosok pria yang nggak sepenuhnya pria #eh. Namanya Ryandhi, sahabat gue di kampus dan sahabat gue dalam ngerjain si skripsi. Dia dan gue masih sama-sama memegang erat gelar ‘hampir sarjana’. “Eh lo Ndhy, belum nih masih bingung apa yang harus gue tambahin, lo gimana?” balas gue. “Yah sama dong kita, emang kita jodoh nih haha” ucap dia sambil memonyongkan mulutnya mau nyium gue, dia selalu begitu dengan gue #Ehkamigahomoloh. Gue cuma bisa mengernyitkan dahi.

“Eh yud, tapi dari tadi gue perhatiin lo senyam senyum sendiri aja sambil megang itu, apaan sih itu?” tanya Ryandhi sambil tangannya menunjuk buku Aiendyu. “Ini buku pemberiaan seorang wanita ndhi” jawab gue. Gue jelaskanlah tentang buku aiendyu ini ke dia. “hahaha, emang si aini kemana sekarang?” tiba-tiba Ryandhi bertanya tentang Aini. Gue lagi-lagi mengernyitkan dahi, “Sebenarnya, ..” saat gue mau jawab tiba-tiba Handphone gue bergetar getar dashyat. “Eh bentar ya ndhi” gue ijin ke Ryandhi. Dia ngangguk-ngangguk kaya boneka hewan di dashboard mobil #eh.

Gue melirik layar HP gue. Gue kaget dan kata yang keluar dari mulut gue saat itu adalah sebuah nama. “Aini”.


Link terkait :
[display-posts tag=aiendyu]

Baca juga yah :
[display-posts categories=cerita]

Share melalui :

31 Comments on Aiendyu (Part 4) : Menyuarakan Hati

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*